Pemilik usaha kecil sering mendapat dua nasihat yang tampak bertentangan: “pembukuan sederhana saja cukup” dan “laporan keuangan Anda belum memenuhi standar”. Keduanya bisa sama-sama benar, tergantung siapa yang akan membaca laporan itu. Memahami pilihan standar dalam menyusun laporan keuangan UMKM menentukan apakah usaha Anda cukup memakai pembukuan ringkas, atau sudah perlu naik ke standar yang lebih lengkap.
SAK EMKM adalah standar akuntansi yang disederhanakan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan. Laporannya lebih ringkas dan pengukurannya memakai biaya historis. SAK EP adalah standar yang lebih lengkap, dipakai entitas yang laporannya digunakan pihak luar secara luas. Pemicu untuk berpindah umumnya bukan besarnya omzet, melainkan munculnya pihak luar yang menggantungkan keputusan pada laporan Anda.
Apa Itu SAK EMKM
SAK EMKM menyederhanakan penyusunan laporan keuangan dalam dua hal utama. Pertama, komponen laporannya lebih sedikit — cukup laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan. Kedua, dasar pengukurannya menggunakan biaya historis, sehingga tidak perlu penilaian ulang aset ke nilai wajar yang biasanya membutuhkan penilai independen.
Penyederhanaan ini bukan bentuk kelonggaran, melainkan penyesuaian dengan kebutuhan. Usaha kecil yang laporannya hanya dipakai pemilik dan kantor pajak tidak memerlukan tingkat kerincian yang sama dengan perusahaan yang dananya berasal dari banyak pihak.
Siapa yang Boleh Memakainya
Kuncinya ada pada frasa tanpa akuntabilitas publik signifikan — yaitu entitas yang laporan keuangannya tidak digunakan secara luas oleh pihak luar untuk mengambil keputusan ekonomi. Sebuah toko grosir, bengkel, atau usaha jasa yang dimiliki dan dikelola sendiri umumnya termasuk kategori ini.
Sebaliknya, entitas yang menghimpun dana masyarakat, memiliki banyak pemegang saham di luar pengelola, atau sedang dalam proses menuju pasar modal tidak dapat memakai standar ini — berapa pun besar omzetnya.
Kapan Harus Naik ke SAK EP
Inilah pertanyaan yang paling menentukan, dan jawabannya jarang berupa angka. Pemicunya adalah hadirnya pihak luar yang bergantung pada laporan Anda. Beberapa situasi yang lazim menjadi titik balik:
- Mengajukan kredit dalam jumlah besar. Analis kredit membutuhkan informasi yang tidak selalu tersedia dalam laporan berbasis SAK EMKM — lihat syarat laporan keuangan untuk pengajuan kredit bank.
- Masuknya investor atau pemegang saham baru. Pihak yang tidak ikut mengelola memerlukan gambaran yang lebih lengkap.
- Perubahan bentuk badan usaha yang membawa kewajiban pelaporan lebih tinggi.
- Rencana audit laporan keuangan. Bila laporan akan diaudit untuk kepentingan pihak ketiga, standar yang dipakai perlu disesuaikan dengan harapan pembacanya.
Perhatikan polanya: tidak satu pun dipicu oleh besarnya omzet. Yang berubah adalah siapa yang membaca dan keputusan apa yang diambil berdasarkan laporan tersebut.
Yang Tidak Tersedia dalam Laporan SAK EMKM
Penyederhanaan selalu ada harganya. Beberapa informasi yang biasa dicari analis kredit dan calon investor tidak muncul dalam laporan berbasis SAK EMKM, antara lain laporan arus kas, rincian pengungkapan yang lebih dalam pada catatan, serta penyajian nilai wajar untuk aset tertentu.
Ketiadaan itu bukan kesalahan penyusun — memang begitulah standarnya dirancang. Namun bagi pembaca dari luar, ketiadaan informasi kerap ditafsirkan sebagai ketidakjelasan, dan ketidakjelasan diterjemahkan menjadi risiko. Di situlah usaha yang sebenarnya sehat bisa memperoleh penilaian yang lebih rendah dari semestinya.
Standar yang Diharapkan Bank dan Investor
Bank tidak selalu menyebut nama standar secara eksplisit. Yang mereka minta biasanya berupa hasil: laporan arus kas, rincian umur piutang, atau daftar aset beserta status kepemilikannya. Bila permintaan seperti itu mulai muncul, sesungguhnya Anda sedang diminta beralih ke standar yang lebih lengkap.
Untuk usaha yang sedang bertumbuh, mempersiapkan peralihan lebih awal jauh lebih murah daripada menyusunnya terburu-buru ketika pengajuan kredit sudah berjalan.
Standar Akuntansi dan Kewajiban Pembukuan Pajak
Dua hal ini kerap dikira sama, padahal berbeda sumber dan tujuannya. Standar akuntansi mengatur bagaimana laporan keuangan disusun dan disajikan. Ketentuan perpajakan mengatur kewajiban menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan, beserta dokumen yang harus disimpan.
Sebuah usaha bisa saja sudah memenuhi kewajiban perpajakannya, tetapi laporan keuangannya belum layak diserahkan kepada bank — karena keduanya memang menjawab kebutuhan yang berbeda. Sebaliknya, laporan yang disusun rapi menurut standar akuntansi akan sangat memudahkan pemenuhan kewajiban perpajakan, sebab datanya sudah tertata sejak awal.
Bila usaha Anda sedang bertumbuh, menyusun pembukuan yang sekaligus memenuhi keduanya jauh lebih efisien daripada membuat dua versi catatan yang terpisah — praktik yang masih sering ditemui dan justru menimbulkan persoalan saat laporan mulai dibaca pihak luar.
Kesalahan yang Paling Sering Ditemukan
- Kas usaha dan kas pribadi bercampur. Ini penyebab nomor satu laporan UMKM sulit dipakai pihak luar. Belanja pribadi yang dibayar dari rekening usaha membuat laba tampak lebih kecil dari yang sebenarnya.
- Persediaan tidak pernah dihitung fisik. Nilai persediaan yang hanya berdasarkan catatan, tanpa pernah dicocokkan dengan barang yang benar-benar ada, membuat harga pokok penjualan tidak dapat diandalkan.
- Aset tetap tidak disusutkan. Kendaraan dan peralatan dicatat sebesar harga beli terus-menerus, sehingga nilai aset tampak lebih tinggi dari kondisi sebenarnya.
- Utang kepada pemilik tidak dicatat. Suntikan dana dari pemilik yang tidak dibukukan membuat struktur permodalan menjadi tidak jelas.
- Pendapatan diakui saat uang diterima saja. Untuk usaha yang menjual secara kredit, cara ini membuat laporan tidak mencerminkan kinerja periode berjalan.
Kabar baiknya, kelima hal ini dapat diperbaiki tanpa perangkat lunak mahal. Yang dibutuhkan terutama disiplin pencatatan dan pemisahan rekening — dua hal yang justru paling menentukan saat laporan Anda mulai dibaca bank atau calon investor.
Cara Beralih ke Standar Penuh
- Susun ulang saldo awal sesuai dasar pengukuran standar yang baru.
- Lengkapi komponen laporan, terutama laporan arus kas dan perubahan ekuitas.
- Perdalam catatan atas laporan keuangan — bagian inilah yang paling banyak berubah.
- Rapikan pemisahan transaksi pemilik dari transaksi usaha, karena akan langsung terlihat pada penyajian yang lebih rinci.
Peralihan umumnya memakan waktu beberapa bulan, terutama bila dokumentasi periode sebelumnya belum lengkap. Karena itu, sebaiknya dimulai jauh sebelum ada tenggat dari pihak luar.
Bacaan Terkait
- Beda Akuntan Publik dan Akuntan Internal Punya staf akuntansi sendiri tidak menghapus kewajiban audit — keduanya menjawab kebutuhan yang sama sekali berbeda.
- Cara Memilih Kantor Akuntan Publik Memilih KAP yang keliru bukan hanya soal biaya terbuang — laporan auditnya bisa saja tidak dapat digunakan untuk keperluan yang Anda tuju.
- Biaya Audit Laporan Keuangan Pertanyaan pertama hampir selalu soal biaya. Jawaban jujurnya: yang menentukan bukan ukuran perusahaan, melainkan kesiapan pembukuan Anda.
Ditulis oleh
Ryanto Piter, SE, SH, MM, Ak, CA, CPA
Founder & Managing Partner KAP Ryanto Piter & Rekan. Akuntan publik terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), anggota IAPI, dengan pengalaman lebih dari 22 tahun di bidang audit laporan keuangan. Lihat profil lengkap
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan nasihat profesional untuk kasus tertentu. Terakhir diperbarui 11 Agustus 2026.
Butuh pendampingan?
Sampaikan situasi perusahaan Anda, kami bantu tentukan langkah yang tepat sebelum Anda mengeluarkan biaya.
Lihat juga jasa pembukuan dan penyusunan laporan keuangan.
Konsultasi Awal Gratis